Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

50 Cara 'Tuk Curi Hatimu : Chapter 7 | ThomAya Prompt (ft. Jagoan Garuda)

   Setelah momen di paviliun kayu itu, Thoma merasa ada sesuatu yang berbeda. Bukan hanya pada Ayaka, tapi juga pada dirinya sendiri.

Sepanjang sisa acara, Ayaka tetap bersikap seperti biasa—tenang, anggun, dan berbicara dengan penuh tata krama kepada para tamu. Tapi setiap kali Thoma berpindah posisi, matanya tanpa sadar mencari sosoknya. Entah kenapa, kini keberadaan Thoma terasa lebih kentara.

Jagoan Garuda memperhatikan itu.

Yoimiya yang biasanya meledak-ledak kali ini memilih diam, hanya sesekali mencubit Bala atau Hanin dengan mata berbinar-binar. Childe tampak tersenyum penuh kemenangan, sementara Bala melipat tangan dengan ekspresi puas.

“Kau lihat itu?” bisik Bala ke arah Hanin. “Dia jadi lebih sadar akan keberadaan Thoma.”

Hanin mengangguk kecil. “Tapi ini baru permulaan.”

Sementara itu, Thoma mencoba bersikap sewajarnya. Dia kembali ke posisinya di belakang Ayaka, memastikan segalanya berjalan lancar. Tapi ada sesuatu yang mengusik pikirannya.

Sentuhan itu.

Bukan pertama kalinya dia menyentuh Ayaka. Sebagai pengawal pribadinya, dia sudah sering menolongnya dalam berbagai situasi. Tapi kali ini berbeda.

Kali ini, Ayaka memperhatikannya.


📝


Setelah acara selesai dan para tamu mulai meninggalkan tempat, Ayaka akhirnya bisa beristirahat. Langkahnya melambat di koridor menuju taman belakang. Suara obrolan mulai mereda, menyisakan suara angin yang menerpa pepohonan.

Thoma mengikutinya dari kejauhan, tetap menjaga jarak yang sopan. Tapi ketika Ayaka tiba-tiba berhenti, ia refleks ikut berhenti.

“Ada yang ingin kau katakan, Thoma?”

Suara Ayaka lembut, tapi tegas.

Thoma berkedip. “Eh?”

Ayaka berbalik, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. “Hari ini… kau lebih diam dari biasanya.”

Thoma menggaruk belakang kepalanya. “Aku hanya memastikan segalanya berjalan lancar.”

Ayaka masih menatapnya, lalu perlahan menurunkan pandangannya ke tangannya sendiri.

“… Terima kasih untuk tadi,” ucapnya akhirnya. “Aku hampir jatuh.”

Thoma mengangguk. “Itu sudah tugasku.”

Ayaka menghela napas kecil. Ada sesuatu dalam tatapannya yang tak biasa.

“Thoma.”

Jantungnya berdetak lebih cepat saat Ayaka menyebut namanya.

“Apa menurutmu… ada batas yang tidak boleh kita lewati?”

Thoma terdiam.

Ia tahu maksud Ayaka. Dan sejujurnya, ia juga telah memikirkannya.

Sebagai pengawal, ia tidak seharusnya melangkah lebih jauh. Ada garis yang jelas antara dirinya dan Ayaka. Dan selama ini, ia sudah menerima itu.

Tapi entah kenapa, setelah sentuhan itu—setelah melihat cara Ayaka bereaksi—ia merasa garis itu semakin kabur.

“… Aku tidak tahu,” jawab Thoma akhirnya.

Ayaka menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis. “Aku juga tidak.”


📝


Dari balik pilar taman, Jagoan Garuda mendengarkan dengan penuh antusias.

Bala berbisik, “Oke, ini mulai masuk fase yang lebih serius.”

Yoimiya menggigit jarinya. “Aku ingin berteriak, tapi aku juga tidak mau mengganggu momen ini.”

Childe menyeringai. “Santai. Ini baru awal.”

Hanin menyilangkan tangan. “Kalau begini terus… mungkin kita tidak butuh cara kedelapan.”

Mereka semua saling bertukar pandang.

Lalu, dalam keheningan, Yoimiya akhirnya berkata, “Tapi tetap kita lakukan, kan?”

Mereka semua mengangguk.

Dan dengan itu, rencana berikutnya pun mulai disusun.


TO BE CONTINUED.



Tokoh 50 Cara 'Tuk Curi Hatimu


  • Ayara Kusumadewi (Kamisato Ayaka) alias AYAKA
  • Thomas Günther Schumacher (Thoma) alias THOMA
  • Abimanyu Kusumadewa (Kamisato Ayato) alias ABIMANYU

Tokoh Pendukung

Kwarto Jagoan Garuda

  • Hu Tao as Hanindya Putri Ramananda (Hanin)
  • Naganogara Yoimiya as Naganohara Yoimiya (Yoimiya)
  • Childe as Ajax Lyubovich Ledovsky (Childe)
  • Scaramouche/Kunikuzushi as Khaizuran Balaaditya Saguntur (Bala)

Komentar

Postingan Populer