Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU
Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv.
Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh.
Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena kebutuhan kosmos akan keseimbangan.
Di jantung rimba utara, pohon yang kelak dinamai Pohon Takdir itu tumbuh ....
... pohon itu bukan pohon biasa. Orang-orang pada zaman itu menyebutnya tulang punggung kosmos. Kulitnya berlapis huruf arkais, yang bahkan lebih kuno dari masa cerita ini mulai dituturkan. Tulisan-tulisan itu dipahat bukan oleh tangan, melainkan oleh waktu itu sendiri. Akar-akarnya menjulur ke dunia bawah, menembus ke dalam kegelapan—ke tempat roh mati berdiam, ke ingatan yang dikubur, ke sumpah yang telah dilanggar.
Batangnya berdiri di dunia tengah—tempat makhluk bernapas, mencintai, dan mengkhianati.
Sementara pucuknya menembus langit tempat bulan bersemayam ....
... atau bisa jadi lebih tinggi dan sakral dari itu, yakni ....
... tempat hukum diturunkan, petir dijatuhkan, dan bahkan bulan diawasi.
Begitulah sang pohon menjadi axis mundi:
Ialah tiang dunia,
tulang punggung kosmos,
penghubung yang tidak bisa diputus tanpa meruntuhkan segalanya.
Setiap takdir dewa dan makhluk fana terukir di sana, disahkan melalui Upacara Kulit Kayu, ritual sakral yang menganut hukum tua yang diterapkan oleh para manusia dan dewa zaman itu, melalui darah, nyanyian, dan pengorbanan sunyi.
Pada malam ketika bintang-bintang dikurung kabut perak, sepasang nama baru terukir:
Kyryll Chudomirovich Flins
dan
Lauma
Ukiran itu berdenyut lembut, seakan dunia sendiri menghela napas.
Para tetua roh hutan menunduk.
Para angin berhenti berembus.
Karena takdir telah berbicara.
⛧°. ⋆༺☾𖤓༻⋆. °⛧
Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua
Lorem ipsum dolor sit amet
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna-aliqua. Ut enim ad minim veniam
Lorem ipsum dolor sit amet
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam
Lorem ipsum dolor sit amet
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam
Lorem ipsum dolor sit amet
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam

Komentar
Posting Komentar