Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

50 Cara 'Tuk Curi Hatimu : Chapter 8 | ThomAya Prompt (ft. Jagoan Garuda)

    Jagoan Garuda, dengan segala strategi gilanya, berhasil menciptakan celah yang tak pernah ada sebelumnya. Masalahnya? Mereka terlalu cepat.

Thoma menyadarinya lebih cepat dari yang ia kira.


๐Ÿ“


Chapter VIII – Konsekuensi Hal Instan


Pagi itu, Thoma berusaha menghindari mereka. Itu adalah misi pribadinya.

Setelah insiden "sentuhan bermakna" dan percakapannya dengan Ayaka, dia mulai merasa ada sesuatu yang aneh dengan seluruh situasi ini. Ayaka yang lebih sadar akan keberadaannya. Jagoan Garuda yang makin semangat dengan rencana-rencana absurd mereka.

Dan dirinya… yang mulai merasa semuanya berjalan terlalu cepat.

Jadi, pagi ini, ia menghindari mereka.

Tidak ke ruang makan keluarga. Tidak ke taman belakang tempat Bala biasanya duduk santai. Tidak ke halaman depan di mana Yoimiya suka menguji kembang apinya. Tidak ke tepi danau tempat Childe biasa berlatih dengan tombaknya.

Tapi ada satu hal yang ia lupakan: mereka bertetangga.

Thoma baru saja keluar dari halaman belakang ketika terdengar suara teriakan menggelegar.

"THOMAAAAA!"

Sebuah tangan tiba-tiba menarik kerah bajunya dari belakang. Thoma hampir tersandung, tapi berhasil menyeimbangkan diri. Begitu menoleh, wajah Bala ada di depan hidungnya.

“LU MAU KABUR KE MANA, HAH?!”

Yoimiya muncul dari sisi lain, bersedekap dengan ekspresi menyelidik. "Jangan bilang kau sengaja menghindari kami?"

“B-Bukan begitu…” Thoma mencoba mencari alasan, tapi Childe sudah menepuk bahunya keras-keras.

“Kami tahu ada yang berubah sejak tadi malam,” kata Childe, matanya berbinar penuh semangat. “Makanya, kita harus masuk ke cara kedelapan!”

Thoma membelalak. “GILA KALIAN?! Baru kemarin aku melakukan cara ketujuh!”

Hanin, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. “Cinta tidak menunggu, Thoma.”

Thoma hampir ingin mengubur dirinya hidup-hidup.


๐Ÿ“


Di sisi lain, Ayaka juga merasakan sesuatu yang aneh hari ini.

Ia tidak bodoh. Ia tahu ada yang berubah setelah kejadian kemarin. Tatapan orang-orang terhadapnya saat ia dan Thoma berada dalam satu ruangan menjadi berbeda. Bahkan kakaknya, Abimanyu, sempat melirik dengan penuh arti saat mereka bertemu di meja makan pagi ini.

Itu membuatnya berpikir.

Apa semua ini hanya kebetulan? Atau… sesuatu sedang terjadi tanpa sepengetahuannya?


๐Ÿ“


Sementara itu, kembali ke halaman belakang, Thoma masih berusaha melawan empat orang dengan ego sebesar gunung.

"Jujur saja, Thoma," Bala menyeringai. "Ayaka makin sadar akan keberadaanmu, kan?"

Yoimiya menepuk-nepuk bahunya. "Dan kau mulai merasa ada kesempatan, kan?"

Thoma menatap mereka dengan wajah frustasi. "Masalahnya bukan itu! Aku merasa semua ini terlalu cepat! Semua strategi kalian... instan, tapi aku bahkan tidak tahu apa yang Ayaka rasakan sebenarnya!"

Keempatnya terdiam.

Itu pertama kalinya Thoma benar-benar bersuara keras soal ini.

Hanin menatapnya dengan penuh arti. “Jadi kau mulai sadar, ya?”

Thoma menghela napas panjang. “Kalian menyusun rencana-rencana ini seakan-akan hubungan bisa dibangun dalam hitungan hari. Tapi Ayaka bukan tipe orang yang mudah terpengaruh. Kalau aku terburu-buru… bisa-bisa aku malah merusak semuanya.”

Yoimiya melipat tangan, merenung. “Jadi… kau mau berhenti?”

Thoma menatap mereka satu per satu. Mereka memang berteman, tapi mungkin, untuk masalah ini … strategi licik Jagoan Garuda bukan jawabannya.

Dia menarik napas panjang. “Aku… aku butuh waktu untuk berpikir,” katanya akhirnya.

Bala mengerutkan dahi. “Jadi, kau menghindari kami?”

“Bukan begitu.”

“JADI KAU BENAR-BENAR MENGHINDARI KAMI?!” Bala langsung merangkul Thoma dengan gerakan dramatis, mengguncang tubuhnya. “SETELAH SEGALA YANG KITA LAKUKAN, KAU MEMUTUSKAN MENINGGALKAN KAMI?! ASTAGA, PENGKHIANAT!!”

“BALA, JANGAN BERLEBIHAN!” bentak Yoimiya, tapi suaranya terdengar lebih ke arah panik.

Childe hanya tertawa, sementara Hanin menghela napas lelah.

Thoma menutup wajahnya, lalu menghela napas panjang. “Astaga, aku lelah.”


๐Ÿ“


Sore itu, saat matahari mulai tenggelam, Thoma akhirnya menemukan sedikit kedamaian di dekat paviliun kayu tempat kejadian kemarin terjadi.

Ia berpikir. Tentang Ayaka. Tentang bagaimana ia tidak ingin hubungan mereka menjadi eksperimen semata.

Dan saat ia menatap danau yang berkilauan diterpa matahari senja, ia sadar:

Cinta bukan strategi.

Cinta adalah sesuatu yang berkembang seiring waktu.

Jagoan Garuda mungkin menganggap ini sebagai permainan. Tapi bagi Thoma, ini adalah sesuatu yang lebih besar dari sekadar menang atau kalah.

Maka, untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—ia benar-benar mengambil langkah mundur.


TO BE CONTINUED.


Tokoh 50 Cara 'Tuk Curi Hatimu


  • Ayara Kusumadewi (Kamisato Ayaka) alias AYAKA
  • Thomas Gรผnther Schumacher (Thoma) alias THOMA
  • Abimanyu Kusumadewa (Kamisato Ayato) alias ABIMANYU

Tokoh Pendukung

Kwarto Jagoan Garuda

  • Hu Tao as Hanindya Putri Ramananda (Hanin)
  • Naganogara Yoimiya as Naganohara Yoimiya (Yoimiya)
  • Childe as Ajax Lyubovich Ledovsky (Childe)
  • Scaramouche/Kunikuzushi as Khaizuran Balaaditya Saguntur (Bala)

Komentar

Postingan Populer