Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

Sukamu, Dukaku



original pin by WeHeartIt

———

———


Akhirnya, tiba juga hari terakhir bulan Desember yang ditunggu-tunggu. Tanggal 31 Desember, adalah hari ulang tahun Kak Raksa —sosok yang telah lama disukai oleh Rania, sekaligus merupakan hari ia akan menyatakan perasaannya.

  Sepertinya benar kata Miko —sobatnya, “Ran, jangan lama-lama mendam perasaannya, nanti malah jadi penyakit. Bilang saja langsung ke dianya, nanti hati auto jadi plong, deh.”

  Pasalnya, kini ia merasa jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya, tetapi anehnya ada sedikit perasaan lega yang terselip di dada.

  Sambil membawa sebuah kotak hadiah, dengan yakin cewek berambut hitam keunguan itu berjalan menuju rumah si mas crush yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumahnya itu. Sepanjang ia melangkah, senandung ria mendampinginya.

  Namun, ada sebuah pemandangan di depan sana yang membuat langkahnya terhenti: di teras rumah tersebut, terdapat sepasang kekasih(?) yang sedang saling suap mesra. Sekali lihat pun ia tahu kalau dua orang itu adalah Raksa dan Naura, yang katanya sedang dekat akhir-akhir ini.

  Tak ingin lebih lama menyiksa batin, perlahan tapi pasti Rania melangkah mundur.

  Kebetulan atau apa, tetapi bersamaan dengan kepergian Rania dari sana, tetiba hujan deras mengguyur. Bahkan, langit gelap pun ikut berkecamuk mengeluarkan petirnya. Seolah langit pun turut merasakan apa yang dirasakan oleh Rania saat ini.


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer