Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

I Still See Your Shadow Even with Lights Off | ALIEN STAGE: MIZISUA (Mizi x Sua)


            Mizi sama sekali bukan anak yang begitu giat, apalagi saat gadis berambut merah jambu itu masih duduk di bangkus sekolah menengah pertama. Tiada hari tanpa bangun dan berangkat sekolah terlambat, dengan penampilan serba kusut dan lecek—tentu tak ada yang nyaman di sampingnya. Namun, itu semua berubah semenjak ia menapaki jenjang sekolah menengah atas.

Tiba-tiba ia selalu tiba lebih pagi di sekolah, jauh sebelum bel berdentang. Pakaian rapi dan wangi, dengan senyum berseri-seri yang hampir 24/7 ia pajang di wajahnya itu. Sama sekali bukan karena rajin, melainkan karena satu kebiasaan kecil yang tak pernah ia akui pada siapa pun: menunggu Sua.

Sua akan datang dua puluh hingga lima belas menit sebelum kelas dimulai. Jalannya tenang, pundaknya tegak, selalu dengan buku di tangan yang setengah terbuka, seolah halaman-halaman itu menuntunnya lebih dari sekadar papan arah jalan. Dan setiap kali itu pula, Mizi merasa dadanya seperti dipenuhi ratusan kelopak bunga yang berebut mekar, hanya karena sebuah senyum singkat yang dilemparkan Sua kepadanya.

Sua adalah seorang kakak kelas yang baik. Selalu tersenyum. Tutur katanya pun lemah lembut dan selalu manis didengar. Kedua alis tebal Sua itu seolah tak pernah membentuk lekukan di keningnya.

Kadang, Sua mengacak rambut Mizi sambil berujar, “Adik kecil seharusnya jangan terlalu banyak diam.”

Mizi hanya meringis kecil, meski dalam hatinya, kalimat itu menggema lebih lama daripada bunyi lonceng sekolah.

Mereka berdua tidak pernah membutuhkan kata-kata besar. Cukup dengan saling menukar tatapan di kantin saat antre makan siang, atau berbagi payung di kala hujan deras merendam lapangan. Semua terasa sederhana, semua terasa aman.

Tidak ada yang lebih manis daripada sore hari di perpustakaan, ketika mereka duduk berdampingan dengan jarak sekadar selebar kertas. Sua menyalin catatan, Mizi berpura-pura membaca, padahal ia sibuk menghitung detak jantungnya yang makin berantakan setiap kali tangan Sua bergerak terlalu dekat.

Hari-hari itu adalah hari-hari damai, penuh cahaya kecil yang hanya mereka mengerti. Sebuah dunia mini yang rapuh, tetapi indah.


__📜__🚞__📜__


Namun, kabar itu datang seperti kereta yang tak bisa dihentikan.

Sua akan pergi.


Tidak ada perpisahan yang benar-benar manis. Semua ucapan selamat tinggal hanyalah keping-keping kaca yang menusuk diam-diam. Mizi tahu, jalan yang dipilih Sua bukan jalan sembarangan: sebuah masa depan yang lebih menjanjikan, jauh dari tembok sekolah yang dingin ini, jauh dari dirinya.


Mereka tidak pernah berani menamai hubungan ini. Dunia luar terlalu cepat menilai, terlalu gemar menunjuk dengan jari. Bisikan-bisikan mulai terdengar, menuduh sesuatu yang tak pernah mereka ucapkan, tapi benar adanya: bahwa mereka saling suka. Tabu, kata orang. Dosa, kata sebagian. Mizi hanya diam. Sua pun sama.



__📜__🚞__📜__


Setelah Sua pergi, segalanya berubah menjadi kutukan.


Bangku kosong di perpustakaan bagai lubang tak berujung.

Jejak langkah di lorong terdengar bagai hantu yang menolak pergi.

Dan setiap bayangan payung yang terlipat membuat Mizi ingin merobek dadanya sendiri, mengeluarkan


Di antara deru kereta bawah tanah dan cahaya lampu neon yang redup, mereka pernah duduk bersebelahan, membiarkan bahu bersentuhan tanpa berani saling menggenggam tangan. Itu sudah cukup. Hanya itu yang bisa mereka miliki—sebuah romansa kecil yang tak pernah diminta izin dari dunia.

Sua lebih tua setahun, lebih matang, lebih siap menatap masa depan yang menanti dengan mulut terbuka. Mizi, si adik kelas, hanya bisa menahan diri di belakangnya—seperti bayangan yang enggan terhapus, tapi juga tak pernah bisa menjadi cahaya.

Mereka tahu. Bahkan sejak tatapan pertama yang terlalu lama di lorong sekolah, mereka tahu: ada sesuatu di antara mereka. Bukan sekadar simpati, bukan sekadar hormat. Ada nyala api yang membakar diam-diam, tak pernah berani diucapkan.

Dan seperti semua api terlarang, pada akhirnya, semua orang tahu. Bisik-bisik mulai terdengar di koridor, tatapan sinis menyusul di mana pun mereka berjalan. Hubungan yang tak pernah diberi nama itu dipelintir, dicemooh, dijadikan aib.

Ketika Sua akhirnya pergi—membawa koper kecil, senyum tipis, dan janji samar tentang masa depan—Mizi berdiri di stasiun, jantungnya terkoyak. Dunia merenggut satu-satunya hal yang pernah membuat hidupnya terasa sah.


Setelah itu, segalanya berubah menjadi siksaan. Setiap iklan di kereta bawah tanah mengingatkannya pada senyum Sua. Setiap kursi kosong seolah dihantui bayangan tubuhnya. Setiap jendela berembun menampilkan wajah Sua yang semakin jauh.


Mizi ingin mengeluarkan semua itu dari tubuhnya. Menguliti ingatan, merobek organ-organ yang membandel menyimpan bayangan Sua, mencabik jantungnya sendiri hingga berhenti berdegup. Karena baginya, lebih baik mati tragis—tenggelam dalam darah dan kesepian—daripada terus hidup bersama ingatan yang menghantui.


Kereta terus melaju, menelan malam, menelan kota, menelan semua kemungkinan yang pernah mereka bayangkan. Yang tersisa hanyalah Mizi, duduk sendiri di gerbong terakhir, membiarkan dirinya terkubur dalam deru mesin yang dingin dan keheningan yang memekakkan.


Ia menutup mata. Dalam kegelapan itu, hanya ada Sua ...


... dan selalu hanya akan ada Sua.





﹌﹌﹌﹌﹌
♯┆song of the day .ᐟ 




Komentar

Postingan Populer