Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

50 Cara 'Tuk Curi Hatimu : Chapter 6 | ThomAya Prompt (ft. Jagoan Garuda)

  Thoma mulai melihat perubahan pada Ayaka—tatapan yang lebih lama, genggaman yang lebih erat, dan kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan. Strategi mereka berhasil, tapi masih ada satu langkah lagi.

Sebuah sentuhan kecil, cukup untuk mengguncang hati.

Dan kali ini, Thoma harus bergerak sendiri.


📝


Chapter VI – Cara Ketujuh: Sentuhan yang Bermakna

Hari berikutnya, strategi baru telah disiapkan. Jagoan Garuda sepakat bahwa ini adalah cara yang paling ampuh—metode yang tak perlu banyak kata, tak perlu situasi yang mencolok, tetapi dampaknya bisa mengguncang hati seseorang.

Sentuhan yang Bermakna.

“Ini bukan sembarang skinship,” Childe menjelaskan dengan penuh wibawa. “Kuncinya ada di momen. Kau harus membuatnya terasa alami, bukan dibuat-buat.”

“Ya,” Yoimiya menimpali. “Sebuah sentuhan kecil, tapi cukup untuk membuat Lady Ayaka sadar bahwa keberadaanmu itu… beda.”

Thoma, yang sedang menyeruput tehnya dengan santai, langsung tersedak begitu mendengar penjelasan itu. “UHUK-UHUK—Tunggu, apa?!”

Bala menepuk punggungnya dengan santai. “Ya, Amatiran. Ini cara ketujuh.”

“Apa-apaan ini?! SKINSHIP? Dengan LADY AYAKA?” Thoma hampir berdiri dari duduknya. “Gila, gila, ini udah keterlaluan! Aku masih bisa menerima strategi sebelumnya, tapi ini? Ini bukan strategi lagi, ini deklarasi perang!”

Mendapati reaksi ekstra hiperbola Thoma, Bala mendecih. “Alay banget, tinggal jalanin juga.”

Hanin mendesah sabar. “Bukan berarti kau harus langsung menggenggam tangannya di depan umum atau tiba-tiba memeluknya. Ini tentang momentum.”

Childe mengangkat satu jari. “Ya. Satu momen yang pas. Satu sentuhan yang sederhana. Tapi jika dilakukan dengan benar… BOOM!”

Yoimiya mengangguk penuh semangat. “Percayalah, ini bakal lebih efektif daripada semua cara sebelumnya.”

Thoma menatap mereka semua dengan wajah horor. “Kalian semua sudah kehilangan akal sehat.”

“Tapi kau tetap akan melakukannya, ‘kan?” Bala menunjukkan cengiran lebar—paling lebar dari semua senyum yang pernah dia tunjukkan; cengiran paling menyebalkan yang dia punya.

Thoma, yang sudah cukup lelah dengan strategi sebelumnya, hanya bisa menghela napas. “Aku masih merasa ini agak keterlaluan.”

Yah, bagaimanapun, kau tetap melakukannya,” Bala mengedikkan bahu. “Ayo, Thoma. Kau sudah sejauh ini.”

Thoma membuka mulut, hendak membantah—tapi tak ada kata-kata yang keluar. Mungkin, jauh di dalam hatinya, ia memang ingin tahu bagaimana Ayaka akan bereaksi.

Dan kesempatan itu datang lebih cepat dari yang diduga.


📝


Hari itu, keluarga Kusumadewa mengadakan pertemuan kecil dengan para kepala klan sekutu. Acara berlangsung di taman luas dengan paviliun kayu yang menghadap ke danau. Ayaka, seperti biasa, berada di tengah, mewakili keluarga Kusumadewa bersama Abimanyu.

Sementara itu, Thoma tetap di posisinya—dekat, tetapi tidak mencolok.

Hingga akhirnya, momen itu tiba.

Saat pertemuan berakhir dan para tamu mulai bersantai, Ayaka berjalan perlahan menuju tepi danau. Langkahnya anggun, tetapi gaunnya sedikit tersangkut di kayu paviliun yang menjorok.

Thoma melihatnya lebih dulu daripada siapa pun.

Tanpa berpikir panjang, dia bergerak.

Tepat sebelum Ayaka kehilangan keseimbangan, tangan Thoma sudah terulur. Ia meraih pergelangan tangannya dengan lembut, menahannya agar tidak terjatuh.

Ayaka terkejut.

Sentuhan itu tidak kasar, tidak memaksa—tetapi cukup kuat untuk menahan langkahnya.

Dan untuk beberapa detik, dunia terasa hening.

Mata Ayaka menatap tangan Thoma yang masih menggenggam pergelangannya. Ada sesuatu yang aneh dalam dadanya—sesuatu yang ia tak bisa jelaskan.

Sementara itu, Thoma menatapnya dengan ekspresi tenang, tetapi ada ketegangan di ujung matanya.

"Maaf," katanya akhirnya, melepaskan genggamannya secara perlahan. "Aku reflek."

Ayaka tidak langsung menjawab.

Jagoan Garuda yang mengamati dari jauh menahan napas. Yoimiya sudah menggigit lengan bajunya sendiri agar tidak bersorak.

Akhirnya, Ayaka menghela napas kecil, mengalihkan pandangannya. "Terima kasih, Thoma."

Tapi nada suaranya sedikit berbeda kali ini.

Dan itu cukup untuk membuat Jagoan Garuda yakin—mereka baru saja menyentuh titik krusial dalam permainan ini.



TO BE CONTINUED....



Tokoh 50 Cara 'Tuk Curi Hatimu


  • Ayara Kusumadewi (Kamisato Ayaka) alias AYAKA
  • Thomas Günther Schumacher (Thoma) alias THOMA
  • Abimanyu Kusumadewa (Kamisato Ayato) alias ABIMANYU

Tokoh Pendukung

Kwarto Jagoan Garuda

  • Hu Tao as Hanindya Putri Ramananda (Hanin)
  • Naganogara Yoimiya as Naganohara Yoimiya (Yoimiya)
  • Childe as Ajax Lyubovich Ledovsky (Childe)
  • Scaramouche/Kunikuzushi as Khaizuran Balaaditya Saguntur (Bala)

Komentar

Postingan Populer