Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

Imperfects in a Bond: Raijin – DISTRESS | Genshin Impact Fanfiction: Raiden Shogun Fanfiction ( Narukami no Mikoto )

 "ayah... sudah lama, ya?" 

pertanyaan pilu itu berasal dari seorang remaja perempuan. rambut ungu gelapnya menjuntai, hampir menyapu tanah, sementara menutupi perawakannya yang ideal. wajahnya cantik, dengan sebuah titik kecil di bawah salah satu matanya... tapi area sekitar matanya merah agak hitam;  bengkak.

ialah raijin, putri sulung keluarga raiden yang prestigius. satu-satunya anak perempuan raiden ei, direktur utama yang saat ini berkuasa atas perusahaan realestat raksasa bernama pt. raiden jaya property. telah menunjukkan prestasi-prestasi gemilang semasa mudanya, raijin digadang-gadang sebagai penerus sempurna perusahaan raksasa itu. gadis latar belakang luar biasa ini pun lebih dikenal dengan sebutannya; raiden shogun.

"ayah... tahukah ayah, kalau raijin rindu pada ayah?" raijin kembali bersuara.

seperti yang biasa dilakukannya saat berkunjung di makam sang ayah, raijin mulai menceritakan satu beban pikirannya, "ayah... ibunda sebentar lagi akan menikah. lagi... dengan sesosok pria dari masa lalunya. pria hebat yang begitu ia idam-idamkan, di sepanjang hidupnya."

"ayah... raijin bingung... haruskah raijin senang? marah? atau justru... sedih?"

namun, tak ada jawaban. hanya terpaan angin dingin yang menyahuti monolog-monolognya itu. tentu saja.

hamparan tanah luas bertabur tugu peringatan dan monumen besar di atasnya. situs pemakaman yang terasa seperti rumah kedua bagi raijin. pemakaman ini memiliki nuansa sejuk yang ditimbulkan dadi pepohonan rimbun di perbatasan pemakaman dan dunia luar, hingga menyerupai tembok hutan.

dan tempat raijin berdiri di atasnya sekarang adalah... blok pemakaman keturunan keluarga raiden, keluarga orang-orang konglomerat yang dimuliakan warga, karena kaitan kuatnya dengan beberapa mitologi setempat. lebih tepatnya, raijin sedang di depan tugu pemakaman ayahnya. sosok ayah yang dikenal sebagai menantu sempurna keluarga raiden.

orang mati tidak bisa menjawab pertanyaannya. kalaupun di sebuah alam yang bertumpang-tindih, sang ayah bisa melihat raijin yang berkeluh kesah pada kuburan ayahnya, ia hanya bisa diam menyaksikan. karena adanya perbedaan alam yang menjadi pembatas di antara mereka.

meski tahu akan fakta itu... lagi, raijin menambahkan monolognya, "raijin tidak tahu, ayah... ini pengalaman baru. perasaan baru. semuanya baru bagiku...."

"ukh- ayah...!" isak raijin, lalu memeluk erat-erat nisan sang ayah. tak peduli jika hujan telah turun, meski baru setitik-titiknya.

biarlah sang hujan turun, menemani raijin meraungkan kesedihan hatinya.





Komentar

Postingan Populer