Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

Tangled Feelings upon a Tree : Chapter II | Genshin Impact Twoshot Fanfiction: CyLou , Cyno x Nilou ( Salvation AU )

  

 


     Hai, Jenderal. 

Bagaimana kabarmu?

Semoga baik-baik saja, sehat selalu, hingga waktumu yang telah ditentukan-Nya tiba. Semoga surat ini ada di genggamanmu sebelum waktu itu datang, deh, haha.

Ini aku, Nilou, yang menulis. Mantan penari Sabzeruz di bawah Zubayr Theatre, teman tercintamu selama 40 hari belakangan. Surat ini kutulis dengan sepenuh hati, dengan tangan bergetar, dan mata yang berlinangkan air.

Sekali lagi, semoga engkaulah yang pertama kali menemukan surat ini. Tak rela rasanya aku kalau nanti bukan engkau yang membacanya dulu.

Kendati pertemuan kita yang begitu singkat dan tanpa disengaja... engkau telah menjadi sosok yang begitu berarti bagiku... tak berlebihan mengatakan kalau tanpamu, hidupku akan lebih pendek daripada ini. Ahaha.

Jenderal, aku masih belum mengambil satu tahun gaji terakhirku sebagai penari Sabzeruz sebelum aku dibawa kemari. Jikalau engkau berkenan, aku ingin engkau ambil uang itu dan sumbangkan ke Sumeru Akademiya ataupun ke panti-panti asuhan. Itu saja permintaan terakhirku... setidaknya jika hidupku tidak bermanfaat bagi orang-orang, sepeninggalanku harus, 'kan? 

Maka.... 

Aku percayakan itu padamu.

Terimakasih sudah mengajariku membaca dan menulis..

Terimakasih sudah mengajariku banyak hal tentang dunia luar. 

Terimakasih sudah dengan segenap tenagamu berusaha mengeluarkanku dari neraka dunia ini.

Dan terakhir ...

Terimakasih sudah setia menemani saat menjelang akhir hayatku, Jenderal Mahamatra Cyno. 

Maafkan aku, Jenderal. Aku tak kuat lagi menunggu, berharap pada sesuatu yang semu.. yang tak pasti. Yang aku sendiri masih menyimpan keraguan di dalam hati... 

Jalani sisa hidupmu tanpa aku dengan penuh kebahagiaan ya, Jenderal?  Karena...

Engkaulah penyelamatku...

Engkaulah kenangan terdalam di hati ini...

Selamanya..

Dengan penuh cinta,

Nilou


"Nilou ... Nilou ...." Tangan sang Jenderal Mahamatra bergetar seiring banyaknya kata yang ia baca dari kertas itu. Kedua iris rubinya yang semula hanya berkaca-kaca menahan sedih, kini telah dibanjiri air mata. Skleranya yang sudah cukup merah akibat tangis pun kelamaan membiru. "Tidak, Nilou ...."

Para prajurit di belakangnya menundukkan kepala, dengan mata berkaca-kaca, turut merasakan kesedihan sang Jenderal. Masing-masing dari mereka melepas atribut kepala, menggenggamnya erat di, sebagai wujud bela sungkawa terdalam.







Komentar

Postingan Populer