Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

Last Warmth ~ Genshin Impact Fanfiction: Hu Tao x Xiao Apocalypse AU Microfiction

        Akhir-akhir ini, cuaca ekstrem terus-terusan melanda Bumi. Dari pergantian cuaca satu ke cuaca lain yang bertolakan keras itu terjadi, sudah banyak makhluk-makhluk bertumbangan. Dalam sekejap, di permukaan Bumi mayat-mayat tergeletak di mana-mana.

Hari itu, ketika hari pertama pertanda Katastrofe muncul.

Hari dimulai dengan pagi yang normal. Langit cerah, matahari secukupnya memapar Bumi dengan sinarnya. Angin berhembus sepoi-sepoi, di mana para burung akan terbang bebas sambil bernyanyi dan bersiulan di langit biru. Benar-benar kondisi yang indah untuk beraktvitas.

Namun, keindahan hari itu tak berlangsung lama.

Sekitar pukul 11, awan-awan mulai menghilang. Suhu terasa panas sekali, seperti pada musim kemarau 2015 di Indonesia. Berjalan biasa pada siang hari itu amat menyiksa, seperti berjalan di atas bara api yang panasnya bukan main. Kepala sakit, rasanya seolah akan pecah akibat terkena siram muntahan gunung-gunung berapi. Sekujur tubuh terasa seperti dikoyak hidup-hidup.

Pada keesokan harinya, badai salju-lah yang datang bertamu.

Dan mulai sejak itu, badai salju tak henti-hentinya menerpa di belahan dunia manapun. 

Setiap hari.

Setiap jam.

Setiap menit.

Setiap detik.

Setiap sekon. 

Setiap waktu, non-stop.

Tanpa jeda.

Sama sekali-







Lima bulan telah berlalu.


Mereka bertahan di bunker bawah tanah. Makanan semakin menipis, energi hampir habis. Radio terakhir berbunyi statis, terkadang memuntahkan suara asing dari tempat yang tak dikenal.

【Bencana satu dan yang lain terus bermunculan, benarkah Kiamat sudah dekat? 】

【 Inilah wujud amarah Dewa-Dewi! Karena kita telah terbutakan oleh kenikmatan duniawi yang fana! Sebab kita telah melupakan kuasa-Nya yang bisa memporak-porandakan alam semesta ini kapanpun Ia mau! Ini baru permulaan .... 】

【 Tuhan ....】

【Sampai kapan kami harus terus menderita seperti ini, Tuhan? 】

【 Kapankah katastrofe ini akan berakhir?】









Xiao tak lagi menjawab.


Dulu, mereka berdua berjalan beriringan, melawan dunia yang semakin hancur. Menertawakan maut, berbagi makanan terakhir, berbagi kehangatan di bawah langit yang sudah kehilangan warnanya.


Kini, Xiao hanya terbaring. Nafasnya berat. Matanya yang dulu tajam, kini redup. Suhu tubuhnya terus turun—tidak, bukan karena udara dingin.

Hu Tao tahu. Ini bukan sekadar Katastrofe. Ini sesuatu yang lain.


Sesuatu yang perlahan mengambil Xiao darinya.


Tangan Xiao bergerak lemah, berusaha menggenggam jari-jarinya. "Hu Tao ...."

Hu Tao menahan napas.


Lalu, suara lirih keluar dari bibir Xiao—suara yang hampir tak terdengar di antara bunyi salju yang tak kunjung reda. "Bertahan hiduplah."

Sunyi menggantung di udara.


Hu Tao menunduk, lalu tersenyum tipis. Napasnya berasap, tangannya gemetar. "Ya. Bertahan hiduplah," beo Hu Tao. Di sela napasnya yang sesak, masih sempat ia tertawa. 

Jari-jarinya mencengkeram kain bajunya sendiri. Kepalanya tertunduk, bahunya bergetar. Udara di bunker semakin dingin.


Matanya memanas. Tenggorokannya tercekat.


Dia tahu.


Xiao tidak akan bertahan.






Tapi dirinya...?


Dia tertawa kecil, suara yang seharusnya ringan, kini terdengar seperti kaca pecah. "Kalau begitu ...." Hu Tao menarik napas panjang, lalu menutup matanya. 

"Makan aku," ujarnya. 

Xiao, terbaring lemas, tertawa kecil mendengar penuturan Hu Tao itu. Ia menggeleng lemah, lalu berbisik, hampir tak bersuara, "Bertahan hiduplah."


Seketika, suara salju di luar terdengar lebih keras.

Dan di dalam bunker yang semakin membeku, hanya ada kesunyian yang menggantung di udara.




Komentar

Postingan Populer