Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

[Klee, No!!] Episode 2: Simulasi Thriller

Fischl, Barbara, Xingqiu, dan Noelle. Pemilik nama-nama itu masih sangat muda. Tahun ini umur mereka baru saja menginjak angka 17. Tujuh belas tahun itu masih muda, masih remaja. Seharusnya remaja itu masa-masa kita bisa bergerak bebas tanpa perlu memikirkan pajak, hutang, dan segala tetek bengeknya. Yang jelas, umur tujuh belas tahun itu terlalu muda untuk buat mati!

Benar. Seharusnya memang begitu. Betul begitu.

Namun pada akhirnya, secepat ini, kah, Tuhan mengambil nyawa mereka ...?

Suara yang mirip jangkrik itu masih belum kunjung berhenti. Selama suara aneh itu masih menghantui, degup jantung mereka masih belum bisa tenang. Keempat remaja itu nahas sekali, karena baru saja dititipi seorang anak tanpa mengetahui latar belakang bocah yang terlihat polos itu.

Uh, guys, kalau boleh kutanya, suara apa itu?” tanya Xingqiu. Dari suaranya saja, tidak kentara kalau saat ini ia sedang ketakutan, tetapi pupil matanya yang bergerak dari sudut ke sudut itu seolah menceritakan segalanya. 

“Tidak tahu. Asalnya pun aku tak tahu ....” 

“Ini simulasi thriller, ‘kan? Prank, ya? Prank doang, 'kan ....” gusar Barbara.

Noelle memejamkan mata, lalu menghela napas panjang. “Kuharap begitu. Tapi, mana kameranya?”

“Memang sudah saatnya ... dadah, dunia ....” sambar Fischl dengan begitu emonya. Dan yang tentu, membuat mereka makin panik.

Hum? Kakak-kakak kenapa takut begitu? Kata Tante Jean, Klee bisa main sama kalian!” Klee mengeluarkan sesuatu dari tas merahnya.

Ah, tolong. Kalau begini terus, mereka akan cepat menua sebelum waktunya. Rasanya sekarang ini mereka ingin pingsan berjamaah.


Episode ini dramatis sekali bukaaahhn? 😂

Kalau suka sama cerita yang model beginian, kalian bisa trakteer aku di Shinadara atau di Dwayalatus, buat modal ngurus blog ini. :D

Komentar

Postingan Populer