Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

Klee, No!!

 “Uuuhuhuhu. Ta-tante Jean mau ke manaaaaaa?” rengek Klee, yang sekarang lagi memeluk kaki jenjang Jean. Tujuannya? Apalagi, kalau bukan untuk mencegah keberangkatan Jean.

Jean menunduk, menatap keponakan —anak temannya, alias Klee. Senyum ramah terpajang di wajah tegasnya. “Hey, Klee? Ayo, aku cuma tiga hari doang, kok. Setelah tiga hari, Tante udah libur lagi, nih. Jadi bisa lanjut main sama Klee ... ya?” bujuk Jean.

No, no! Tante ndak boleh ke mana-mana!” larang Klee sambil menyilangkan tangan di dada. “Kalau Tante pergi, terus Klee-nya sama siapa? Di rumah sendirian ... hueeee, ndak mau!”

“Nggak sendirian, kok. Kan, ada 

Oh, oke. Ternyata gagal. Bujukan Jean kurang menggoda. Sayang sekali.

Jean bingung. Matanya sempat melirik jam dinding sesaat, lalu karena itu pula keningnya mengernyit.
Perempuan berambut pirang itu menjentikkan jari. “Ah, Tante ada ide!” celetuknya. Sambil menyeru begitu, matanya berbinar-binar.

Alis Klee naik satu. Jarang sekali ia meliha ekspresi itu terpasang di wajah Tante Jean-nya yang biasanya selalu bereskpresi lempeng. Makanya bocah ini penasaran.

“Klee, ambil tas kamu dan bawa barang-barangmu seperlunya. Ayo ikut Tante jalan-jalan sebentar!”

“Seperlunya? Jalan-jalan ...?” Klee mengulang beberapa kata yang diucapkan Jean tadi. “Jalan-jalan! Oke, Tante! Sebentar, ya! Klee masuk kamar dulu!!”

“Tante tunggu di motor ya, Klee!” seru Jean.

“Iya, Tante! Tungguin, Klee jangan ditinggal!”

Sambil menunggu Klee yang sedang bersiap-siap, di atas motor, Jean menatap rupa seorang wanita yang juga tengah memandangnya sembari tersenyum puas —pantulan dirinya di kaca spion.




Komentar

Postingan Populer