Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

Klee & Ramadhan

 Seorang bocah pirang sedang menyusuri jalan setapak sambil terbungkuk lesu. Jalur berhiaskan batu-batu kecil itu menuju rumahnya. Namun tak seperti biasanya, kali ini ia tak bersemangat sama sekali meski sudah sangat tinggal beberapa langkah lagi.

“Klee!” Itu suara Tante Jean-nya.

Tak menyahut, Klee tetap melanjutkan aktivitas berjalan-loyo-sambil-menyeret-kakinya.

Jean menghampiri Klee. “Hey, Klee. Kamu kenapa loyo gitu?” tegur Jean, sambil membelai rambut pirang pucat bocah itu.

Dengan suara lesu, Klee menjawab, “Ramadhan, puasa ... ukh.”

“Hmm ....” sang perempuan bermata biru mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk. Lalu beberapa saat kemudian kembali membuka mulut. “Kalau aku kasih tau kamu ini ... kamu langsung jadi semangat lagi, nggak, Klee?”

Karena agak penasaran, Klee mengangkat kepalanya sedikit. Tatapan matanya yang melirik pada Jean menunjukkan ketertarikan tinggi.

Jean terkekeh. “Kamu lupa, ya? Ramadhan ini ... Albedo, ‘kan, mau dateng.”

Klee meloncat kegirangan, lalu berlari ke dalam rumah dengan antusiasnya. “Kak Albedo!!” pekiknya.

“Klee, jangan lari-lari! Nanti jatuh!” seru Jean. Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan, “Klee, Albedo datangnya baru besok!” 

Namun, Klee tak mendengar itu. Ia sudah masuk rumah dengan mengantungi semangat rianya. 

Dan ... hal selanjutnya yang bisa kita prediksi, Klee kembali keluar dengan muka lesunya. Ya, dia kecewa karena di dalam sana tak ada Albedo yang ia cari-cari.

Namun, diam-diam ia menaruh harapan besar untuk esok hari. Kakak Albedo, kapan Kakak pulang ....?

Oke, hanya karena harus menahan lapar dan haus, mungkin bulan puasa memang tak selalu buruk. Selalu ada hal yang membuat Ramadhan menjadi sesuatu yang istimewa dan sangat ditunggu-tunggu. Benar, ‘kan?

Challenge accepted and completed, @Jessie! Heh!

Komentar

Postingan Populer