Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

50 Cara 'Tuk Curi Hatimu : Chapter 9 | ThomAya Prompt (ft. Jagoan Garuda)

      Tiga hari berlalu tanpa percakapan berarti antara Thoma dan Ayaka.

Thoma merasa ada yang aneh dengan ini. Biasanya, walau sekadar basa-basi, mereka tetap berbicara. Tapi sekarang? Tidak ada satupun obrolan. Tidak ada tatapan. Tidak ada momen-momen kecil yang dulu terasa wajar.

Mungkin ini konsekuensi dari semua hal yang terlalu cepat.

Atau mungkin, ini memang jalan yang harus ia lalui.


📝


Di kantor keluarga Kusumadewa, Thoma sibuk dengan urusan bersama Abimanyu.

Tapi jujur saja, dia lebih banyak melamun daripada bekerja.

Abimanyu melihatnya sejak tadi—Thoma duduk dengan dagu bertopang di tangannya, bolak-balik membaca dokumen yang sama, kadang mendesah kecil, lalu mengalihkan pandangan ke jendela.

Abimanyu menahan senyum. Ini terlalu mudah dibaca.

“Kau kangen dengan adikku?” tanyanya tiba-tiba.

Thoma tersentak. “Hah? Nggak, kok.”

Abimanyu mengangkat alis. “Benarkah?”

“Ya.”

“Tapi kau sudah membaca halaman yang sama sejak lima belas menit lalu.”

Thoma membeku. “... aku hanya ingin memastikan semuanya benar.”

Abimanyu menyandarkan diri ke kursi, melipat tangan di depan dada. “Kalau begitu, kenapa kau mendesah seperti orang kehilangan sesuatu?”

“Aku nggak—”

“Kau tahu, Thoma,” Abimanyu memotong, nadanya geli, “kalau kau merindukan Ayaka, kau tinggal bilang saja.”

Thoma terdiam.

Dan saat ia tidak menjawab, Abimanyu tersenyum puas.

“Sudahlah,” katanya. “Aku lebih dari mampu meng-handle kerjaan ini. Kau pulang saja dan temui Ayaka.”

“Tapi—”

“Sekarang.”

Thoma menatapnya ragu, tapi akhirnya bangkit dari kursinya. Mungkin Abimanyu benar.

Mungkin sudah saatnya ia berhenti berpikir dan mulai bertindak.


📝


Namun, saat Thoma tiba di kediaman Kusukadewa, yang ia temukan hanyalah kesibukan.

Ayaka tenggelam dalam buku-buku dan tumpukan dokumen. Matanya terfokus pada tulisan tangan yang memenuhi lembaran-lembaran kertas, seolah dunia luar tidak ada.

Thoma berdiri di ambang pintu. “Lady Ayaka?”

Tidak ada jawaban.

“Ayaka?”

Ayaka masih tidak menjawab.

Thoma mencoba lagi. “Aku bisa bantu kalau kau mau.”

Masih tidak ada jawaban.

Ayaka hanya diam, matanya tetap tertuju pada teks kuno yang sedang ia pelajari. Seolah-olah Thoma tidak ada di ruangan itu.

Thoma merasa sesuatu menghantam dadanya.

Dia tidak tahu apakah Ayaka benar-benar tidak mendengarnya, atau dia hanya memilih untuk tidak merespons.

Tapi yang jelas, sakit itu ada.

Dan karena itu, Thoma berbalik dan pergi.


📝


Ia berjalan sendirian di taman perjamuan, tempat yang biasanya ramai oleh keluarga dan tamu undangan. Tapi kali ini, hanya ada dirinya dan angin malam yang berhembus pelan.

Thoma duduk di ayunan, menatap tanah dengan ekspresi melas.

Dia tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini.

Mungkin Ayaka memang hanya melihatnya sebagai seorang pengawal, tidak lebih. Mungkin semua usaha ini memang sia-sia.

Dan tepat ketika pikirannya mulai berputar semakin gelap—


Jagoan Garuda muncul.


“APA-APAAN EKSPRESI MELAS ITU?!” Bala berteriak.

Yoimiya berjongkok di depan Thoma, menatapnya dengan prihatin. “Kau patah hati?”

Childe hanya menyilangkan tangan. “Jadi akhirnya kau merasakan efek dari semua ini, huh?”

Thoma menghela napas panjang. “Aku nggak tahu, teman-teman. Aku merasa … Ayaka semakin jauh.”

Jagoan Garuda saling bertatapan.

Lalu Bala menyeringai. “Aku tahu solusinya.”

Yoimiya mengangguk mantap. “Ya, ada satu cara yang mungkin bisa berhasil.”

Thoma menatap mereka dengan lelah. “Tolong jangan sesuatu yang dramatis lagi.”

Hanin mengangkat satu alis. “Tidak. Kali ini… kita akan gunakan strategi paling kalem dari kitab suci kita.”


Childe menepuk pundak Thoma, lalu berkata dengan suara penuh makna,


Cara ke-27.


TO BE CONTINUED.


Tokoh 50 Cara 'Tuk Curi Hatimu


  • Ayara Kusumadewi (Kamisato Ayaka) alias AYAKA
  • Thomas Günther Schumacher (Thoma) alias THOMA
  • Abimanyu Kusumadewa (Kamisato Ayato) alias ABIMANYU

Tokoh Pendukung

Kwarto Jagoan Garuda

  • Hu Tao as Hanindya Putri Ramananda (Hanin)
  • Naganogara Yoimiya as Naganohara Yoimiya (Yoimiya)
  • Childe as Ajax Lyubovich Ledovsky (Childe)
  • Scaramouche/Kunikuzushi as Khaizuran Balaaditya Saguntur (Bala)

Komentar

Postingan Populer