Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

50 Cara 'Tuk Curi Hatimu : Chapter 11 | ThomAya Prompt (ft. Jagoan Garuda)

    Setelah malam itu, Thoma tetap ada di sekitarnya—diam-diam, tanpa benar-benar menyatakan kehadirannya. Dia adalah bayangan yang Ayaka tak pernah sadari sebelumnya, tapi kini seakan selalu muncul dalam pikirannya.

Di perpustakaan Kediaman Kusumadewa, Ayaka membalik halaman demi halaman buku sastra klasik, tetapi pikirannya mengembara lebih jauh dari seharusnya. Ada sesuatu yang mengusik ketenangannya, sesuatu yang ia coba abaikan. Sampai akhirnya, tanpa sadar, kepalanya terangkat, matanya bergerak mencari sosok tertentu.

Namun, kursi di seberang meja kosong.

Ayaka mengerjapkan mata, berusaha meredam kegelisahan yang bahkan tak bisa ia namai. Mungkin kebetulan, pikirnya. Mungkin ini hanya kebiasaan. Tapi kenapa ia merasa seakan ada sesuatu yang keliru?

Di hari lain, saat langkahnya keluar dari kelas, ia kembali menoleh. Ia tak tahu pasti apa yang ia harapkan, tetapi di lubuk hatinya yang terdalam, ia mendamba sosok yang biasa berdiri di ujung lorong dengan jas rapinya, senyum tipis yang tak pernah terlalu terang, tapi cukup untuk membuat harinya terasa sedikit lebih ringan.

Namun, yang ada hanya wajah-wajah asing yang berlalu begitu saja.

Ayaka menghela napas. Itu bukan apa-apa, bukan? Hanya kebiasaan yang tanpa sadar ia bangun. Hanya keterbiasaan yang tak berarti lebih dari itu.

Tetapi jika hanya sekadar kebiasaan, mengapa dadanya terasa begitu kosong?


๐Ÿ“


Jagoan Garuda kembali dengan strategi berikutnya.

“Kau harus mundur.”

Thoma mengangkat alis mendengar pernyataan itu.

“Maaf?”

“Kau harus menarik diri, Thom,” kata Hanin dengan nada serius yang jarang ia gunakan. “Biar Ayaka sadar kalau dia bisa kehilanganmu.”

Thoma terkekeh pelan. “Kedengarannya kejam.”

“Terkadang, satu-satunya cara membuat seseorang menyadari sesuatu adalah dengan membiarkannya kehilangan hal itu sejenak.”

Thoma terdiam. Ia tahu betul ia bukan siapa-siapa dalam hidup Ayaka. Ia hanya sekretaris Abimanyu, asisten di Kediaman Kusumadewa, seseorang yang kebetulan selalu ada di sisinya.

Namun, entah mengapa, gagasan untuk menjauh darinya terasa lebih sulit dari yang ia bayangkan.

Tetap saja, ia setuju.

Maka dimulailah Cara Kedua Puluh Delapan—perlahan-lahan, Thoma menghilangkan jejaknya dari keseharian Ayaka.


๐Ÿ“


Thoma mulai menarik diri.

Ia masih ada di sekitarnya, tetapi tidak lagi dengan cara yang sama.

Ia tidak lagi menyodorkan teh tanpa diminta. Ia tidak lagi menyalakan lampu di ruang belajar Ayaka sebelum senja jatuh. Ia tidak lagi muncul di koridor dengan jas rapi dan senyum samar.

Dan yang paling menyebalkan, ia tidak lagi menawari payung saat hujan turun.

Ayaka baru menyadari semuanya saat langit mendung menumpahkan isinya. Biasanya, saat ini, Thoma sudah berdiri di dekatnya, payung hitam terbuka, menunggunya dengan tatapan santai.

Namun kali ini, ia berdiri di tangga depan fakultasnya, menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.

Tetesan hujan jatuh di pipinya, bercampur dengan kebingungan yang mulai mengendap.

Ke mana dia?

Seharusnya ini bukan masalah besar. Seharusnya ia bisa saja membuka payungnya sendiri, melangkah pulang seperti biasa.

Tetapi entah kenapa, ia justru merasakan kekosongan yang lebih dalam dari sekadar ketidakhadiran.


๐Ÿ“


Ayaka mencari Thoma.

Ia tidak sadar kapan kakinya mulai melangkah ke arah rumah kecil di ujung blok paling jauh dari gerbang portal Perumahan Garudakencana. Langkahnya ringan, seakan dituntun oleh sesuatu yang tak kasatmata.

Di depan pintu, ia berhenti.

Apa yang ia lakukan di sini?

Ia bahkan tidak punya alasan jelas untuk datang. Ia bisa saja mengatakan bahwa ia butuh sesuatu, bahwa ada hal penting yang harus dibahas. Tapi itu bohong.

Yang benar adalah—ia hanya ingin melihatnya.

Mengetuk pintu adalah hal yang mudah. Namun, suara Thoma dari dalam hampir membuatnya mundur.

Pintu terbuka, memperlihatkan sosok pria itu yang berdiri santai dengan kemeja lengan panjang yang digulung di siku.

Ayaka membuka mulut, tetapi suaranya tertahan. “Kau… kenapa tidak ada di sekitarku akhir-akhir ini?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Thoma menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. Bukan senyum ramah yang biasa ia berikan, tetapi sesuatu yang lebih lembut, lebih penuh pemahaman.

“Aku pikir kau tidak akan menyadarinya.”

Ayaka terdiam.

Pada titik ini, ia tahu—bahwa dirinya telah jatuh ke dalam jebakan perasaannya sendiri.




TO BE CONTINUED....


Tokoh 50 Cara 'Tuk Curi Hatimu


  • Ayara Kusumadewi (Kamisato Ayaka) alias AYAKA
  • Thomas Gรผnther Schumacher (Thoma) alias THOMA
  • Abimanyu Kusumadewa (Kamisato Ayato) alias ABIMANYU

Tokoh Pendukung

Kwarto Jagoan Garuda

  • Hu Tao as Hanindya Putri Ramananda (Hanin)
  • Naganogara Yoimiya as Naganohara Yoimiya (Yoimiya)
  • Childe as Ajax Lyubovich Ledovsky (Childe)
  • Scaramouche/Kunikuzushi as Khaizuran Balaaditya Saguntur (Bala)

Komentar

Postingan Populer