Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

Nocuous Path: 1. Terikat

 Meski dengan penerangan minim, di sana-sini tetap banyak orang yang menggoyangkan badan, diiringi dengan alunan musik disko yang berasal dari permainan lihai piringan hitam oleh sang DJ. Tiga hal tersebut lekat kaitannya dengan diskotek. Dan ... ya. Di situlah Yoon Ina berada saat ini. Seperti biasa.

Namun ketika ia sedang asyik berjoget ria, Ina merasakan paha kanannya bergetar. Getaran itu tentu saja berasal dari ponselnya yang ia letakkan di dalam saku celana.

Ibu: Pulanglah.

Pulang ... tentu maksud Ibu bukan pulang ke unit apartemen pribadinya. Melainkan ke rumah, tempat di mana ia dibesarkan dan tinggal hingga usia sembilan belas tahun.

Selama ini, ibunya tidak protes dan cenderung cuek dengan gaya hidupnya yang foya-foya. Semakin dipikir, sekujur tubuh Ina semakin bergetar hebat. Dan dirinya juga semakin. “Ibu, aku pulang ...,” lirihnya.

“Yoon Ina, besok kau akan menikah.”

“Maksud Ibu?”

“Kau pikir buat apa? Tentu saja untuk membayar permak dagumu ini,”

“Ibu, itu ofensif, tau!”

“Ofensif? Ofensif, kepalamu meleduk.”

“Sudah, pokoknya sekarang kau tidur saja yang nyenyak.”

“Oh iya. Jangan pernah berpikir untuk kabur.”


. . .


Sepanjang acara berlangsung, Ina tak henti-hentinya ternganga. Bagaimana tidak? Saat ini ia tengah mengalami hal-hal seperti drama yang biasa ditonton oleh teman-temannya.

“Mari kita 

“Mohon bantuannya, Nona Yoon Ina.” 

Auranya benar-benar menekan. “Eh ... baik, mohon bantuannya!”

Komentar

Postingan Populer