Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

Bagian 1. Sungai Terpanjang Sekalipun Ada Hulunya

 

tekan gambar untuk memutar theme chapter ini :)

𖣂


         Dunia kala itu dikuasai oleh keangkuhan. Di antara para dewa yang agung, Kyryll Chudomirovich Flins berdiri sebagai perwujudan badai dan guntur yang tak terpadamkan. Ia adalah guntur yang menggetarkan gendang telinga manusia, sebuah eksistensi yang kehadirannya ditandai dengan aroma ozon dan kilat yang mencabik cakrawala. Flins, sebagai personifikasi petir dan batu, ialah makhluk yang jarang disentuh oleh kasih dan kehangatan manusia. Suaranya memecah langit, langkahnya mengguncang bumi. Ia adalah pelindung hukum kosmik, pengawal sumpah, dan algojo bagi pengkhianatan.


Namun sejak nama Lauma terukir di pohon itu, petirnya mulai kehilangan arah.

Kilatan yang seharusnya jatuh lurus kini melenceng sepersekian detik. Guntur yang biasa menggema tanpa ragu terdengar—untuk pertama kalinya—tertahan. Seolah ada variabel baru yang belum terdefinisi dalam rumus keberadaannya.



“Lauma .…”



Nama itu lolos dari bibirnya tanpa ia sadari.


Tangan Flins—yang sejatinya mampu meretakkan batu suci dan memanggil badai—meraba huruf demi huruf yang terukir pada kulit Pohon Takdir. Getahnya hangat, berdenyut selaras dengan nadi dunia.

“Lauma ... huh,” gumam Flins, seraya tangannya meraba pahatan alami pada Pohon Takdir. Ukiran yang semula tampak mati menghangat di bawah telapak tangannya. Garis-garis takdir yang dipahat oleh waktu mulai bergerak perlahan, seakan mengenali sentuhan sang penegak hukum kosmik. Cahaya samar mengalir di sepanjang lekuk aksara, dan getah emas menetes pelan, membawa jutaan memori asing bersama dengan aroma musim yang belum terjadi. Beberapa aksara meredup, yang lain menyala pucat, bak bara yang terpendam terlalu lama.

Selama berpuluh-puluh dasawarsa ia mengembara, menjelajahi samudera luas bernama kehidupan, tak pernah sekalipun ia bersinggungan dengan nama itu. Meski demikian, Flins hampir tak pernah menyentuh alam manusia, apalagi terlibat dalamnya. Deduksinya telah sampai pada satu kesimpulan: jika selama ini dirinya tak pernah bertemu dengan sang empu nama, maka pastilah ia lebih sering berkelana di alam manusia—tempat yang asing bagi dirinya.


“Ah, um, Tuan! Anda tidak diperkenankan menyentuh pohon itu sembarangan!”


Flins menoleh mendapati suara itu. Suara yang belum pernah ia dengar. Seorang penjaga muda berdiri kaku di balik lingkar akar. Auranya belum stabil—jejak darah dewa dan manusia saling bertabrakan di nadinya. 

Usai informasi-informasi itu membanjiri otak, dari matanya yang mampu menelisik tajam aura seseorang, Flins tersenyum simpul dan mengangguk dua kali. Ah, seorang campuran. Sepertinya baru-baru ini ia ditugaskan menjadi pengayom pohon tua ini. 

Ia menepuk perlahan batang pohon itu. “Tenanglah, anak muda.” Suaranya rendah, namun udara di sekeliling tetap bergetar, seolah tergerak untuk menggelitik bulu kuduk penjaga muda itu. 


“Namaku bahkan terukir di sini,” lanjut Flins. Suaranya bergema, membawa otoritas yang membuat udara di sekitar mereka memberat. “di bawah bayang-bayang kematian dan kelahiran kembali Pohon Takdir ini. Seharusnya menyentuh bagian dari diriku sendiri bukan merupakan sebuah dosa, 'kan?”


Si penjaga muda hanya bisa mengangguk kaku. Matanya tak sanggup memandang tatapan menghardik yang terpasang pada topeng tersenyum itu.








“Katakanlah, anak muda. Apakah, mungkin, jalanmu pernah bersimpangan dengan sosok bernama Lauma?”


⛧°. ⋆༺☾𖤓༻⋆. °⛧


        Saat itu, sang penjaga muda tampak berpikir lama sebelum akhirnya menjawab. Ia menatap ke tanah, lalu ke arah hutan di kejauhan, seolah memastikan bahwa apa yang akan ia katakan memang pantas dibagi. 

“Jika Tuan mencari Nona Lauma,” katanya pelan, “beliau jarang berada di tempat tinggi. Menjelang senja, Nona Lauma biasa turun ke lembah di timur. Ada mata air tua di sana, di mana pohon-pohonnya tumbuh rendah. Anak-anak manusia sering berkumpul di sana. Hewan-hewan pun tidak menjauh.”

Flins tidak meminta penjelasan lebih jauh. Ia hanya mengangguk, lalu meninggalkan Pohon Takdir dengan langkah senyapnya. Langit kala itu tetap jernih. Tidak ada guntur yang mengiringi langkahnya. Tanah tidak bergetar saat ia melangkah, dan udara tidak menegang. Dunia seolah tidak merasa perlu bersiaga. 


Flins berhenti di balik pepohonan ketika suara itu lebih dulu sampai kepadanya.


Seseorang sedang bercerita.


Tutur katanya indah, dengan suara merdu yang menggetarkan jagat. Sosok di seberang, yang Flins yakin 100% akan identitasnya adalah Lauma, merupakan seorang perempuan bertubuh tinggi, dengan kulit pucat laksana purnama yang—Flins bersumpah—akan membuat siapapun yang melihat dengan mata telanjangnya, lupa pada terang matahari. Rambutnya terurai panjang, berwarna ungu kebiruan, jatuh di punggungnya bagai senja yang enggan beranjak. Di puncak kepalanya tumbuh sepasang tanduk yang anggun, menambah harmoni dalam penampilannya yang memukau.






Lauma duduk di atas salah satu akar pohon Fagus sylvatica yang mencuat ke permukaan, dikelilingi lingkaran kecil. Anak-anak manusia duduk bersila di tanah, pakaian yang kotor oleh debu dan rumput tak tampak menjadi masalah bagi mereka. Di antara mereka, beberapa fauna hutan ikut merapat. Seekor rusa muda berdiri tidak jauh, burung-burung kecil bertengger rendah, dan seekor rubah berbaring dengan kepala di atas kaki depannya.


“Dulu,” katanya, “bulan tidak selalu tinggal di langit. Ia pernah turun dari singgasananya, membelai bumi dengan jarak begitu dekatnya, dan sejak saat itu musim belajar untuk tidak selalu patuh.”


Anak-anak kecil itu menyimak tanpa menyela. Hewan-hewan tidak pergi, seolah turut memerhatikan dengan saksama penuturan Lauma, kata demi kata.


Flins berdiri diam. Sejauh ini, belum ada yang menyadari keberadaannya. Bukan karena ia bersembunyi, melainkan karena di bawah naungan pohon bewuk tidak ada alasan untuk waspada. Pohon bewuk Fagus sylvatica itu rimbun dan teduh, daunnya rapat menahan terik matahari. Batangnya kokoh dengan akar-akar yang timbul, pas untuk diduduki melingkar. Di bawahnya udara terasa sejuk, angin berdesir pelan, dan siapa pun yang berteduh di sana merasa nyaman untuk duduk berkeliling dan berlama-lama. Tempat itu terasa aman, dan rasa aman itu menyelimuti siapa pun yang berada di dalamnya.

Ia memperhatikan cara Lauma menatap para pendengarnya. Tatapannya terasa lembut, seolah tak memberi jarak dengan makhluk-makhluk yang lebih mungil darinya itu. Tiap patah kata yang disampaikan seolah kisah itu milik bersama, bukan miliknya seorang.

Flins merasakan sesuatu yang asing, seperti ada pukulan kecil di dadanya. Bukan amarah, bukan pula ancaman. Ia tidak terbiasa menamai perasaan yang tidak berkaitan dengan hukum langit.


Kemudian seorang anak bertanya dengan suara ragu, dan Lauma tertawa singkat. Tawa ringan, tanpa ejekan. Ia menjawab pertanyaan itu dengan sabar, lalu melanjutkan kisahnya. Flins menyadari bahwa tidak ada sumpah yang mengikat tempat ini, tidak ada perintah yang ditegakkan. Namun tidak satu pun dari mereka pergi.

Ia yang terbiasa melihat kepatuhan lahir dari ketakutan, kini menyaksikan sesuatu yang lain. Flins termangu akan fenomena asing yang membujuk matanya untuk terus menyaksikan: makhluk-makhluk itu tinggal karena ingin. Mereka merasa nyaman, kendati status Lauma yang berlipat ganda lebih agung dari mereka, tampaknya tak menjadi alasan untuk mengerdilkan diri.


Ketika kisah itu selesai, Lauma berdiri. Anak-anak bubar perlahan, masing-masing berpamitan. Hewan-hewan mundur tanpa tergesa. Lauma menepuk pelan kepala seorang bocah, mengusap leher rusa muda, lalu menoleh.


Namun, sebelum tatapan mereka sempat saling terpaut, Flins sudah tak lagi berada di sana. Sosoknya seolah ditelan angin sepoi yang baru saja meniup surai biru keunguan gadis rusa itu.





⛧°. ⋆༺☾𖤓༻⋆. °⛧




         Dari celah-celah pinus yang berdesakan di lereng lembah, Flins telah lama menyaksikan majelis itu. Bukan sekali dua kali. Ia selalu memilih posisi yang aman: cukup dekat untuk menangkap gema suara, namun cukup jauh untuk tetap menjadi bayangan yang mengintervensi. Anak-anak manusia kecil duduk membentuk lingkaran di atas hamparan lumut, lutut mereka bersentuhan tanpa canggung. Di antara mereka, makhluk-makhluk hutan berdiam tenang, tanpa tanda waspada, seolah tempat itu telah lama disepakati sebagai wilayah tanpa ancaman.


         ... Ia turun kala purnama pertama di penghujung musim semi menggantung di langit; pepohonan dan bunga pun bertumbuh menanggapi jerit pertamanya.”

“Tertawalah kini, menarilah kini, saat Sang Pelantun Bulan yang baru lahir menitikkan tangis—”

“Sebab tanduk dan darahnya telah dimandikan cahaya rembulan; dan di bawah tatapan Dewi Bulanlah kelak ia akan terlelap.

… Lauma menutup jurnal milik para Frostmoon Scions. Dengan hati-hati, telapak tangannya menahan sampul yang sudah aus oleh usia. Hening menerpa majelis mereka, dengan suara Lauma mereda bersama kalimat terakhir. Kata-kata itu tidak menghilang begitu saja; melainkan menggantung di udara, berat dan dingin, seakan lembah itu masih menimbang maknanya. Anak-anak manusia di sekelilingnya tidak bergerak. Hewan-hewan pun tetap diam, seolah tahu kisah itu belum sepenuhnya usai.


Lalu Lauma mengangkat wajahnya.



Tatapan mereka bertemu.


Tiada kilat yang menyambar. Tiada pula guntur yang menyusul. Hanya kesadaran sunyi bahwa mereka adalah dua hal yang berlawanan. Bahwa satu menjaga hukum dengan kekerasan, sementara yang lain merawat dunia dengan cerita. 


Kendati demikian, Lauma tetap mengukir senyum pada parasnya yang seputih gading, halus dan nyaris tak bernoda. Namun ada jeda singkat sebelum senyum itu terbentuk, cukup lama untuk disadari oleh seseorang yang terbiasa membaca tanda-tanda sekecil apa pun.

“Ah ... Tuan ....?” sapanya.


Seiring dengan langkahnya yang mendekat, Flins menimbang-nimbang nama seperti apa yang seharusnya ia beritahukan. Namun, akhirnya ia memilih untuk mengucapkan nama aslinya. Sebuah nama sejati yang lahir bersama dengan kilatan petir beberapa milenium lalu, terukir dalam Pohon Takdir yang abadi.


“... Flins.”


Nama itu diucapkan begitu saja, pendek dan tanpa embel-embel. Dampaknya datang kemudian, halus namun nyata, ketika udara di antara mereka seolah berhenti bergerak.


“Ah, Flins.”


Kedua tangan Lauma lalu tergerak untuk menutup mulut menganganya. Sebuah gerakan spontan yang tak sempat tersaring oleh etiket.


“Kyryll Chudomirovich Flins?!” Sepasang matanya yang berwarna biru keabu-abuan—dengan semburat merah muda yang hidup bersemayam di pusatnya—membelalak sempurna, kala benaknya menyambungkan beberapa benang pada nama Flins.


Lauma berdeham, mengembalikan persona elegannya yang semula dipudarkan rasa terkejut. “Terima kasih sudah mendengarkan ceritera saya.”


Ia melirik lingkaran kecil di sekelilingnya, anak-anak dan makhluk hutan yang masih enggan benar-benar pergi.

“Jika di lain kesempatan Anda tidak sibuk,” lanjutnya, seolah itu bukan permintaan yang mustahil, “bolehkah Anda duduk bersama kami?”


Dan entah mengapa, Flins tahu pada saat itu, ketertarikannya telah tumbuh semakin lebat tanpa izin, pada sesuatu yang tidak pernah ia pelajari untuk hadapi.

Di atas lembah, langit tetap tenang.

Namun bagi Flins, dunia akhirnya memutar roda kehidupannya.






⛧°. ⋆༺☾𖤓༻⋆. °⛧



⛧°. ⋆༺☾𖤓༻⋆. °⛧




𖣂




﹌﹌﹌﹌﹌

♯┆song of the day  .ᐟ 




BACA BAGIAN SELANJUTNYA »


Komentar

Postingan Populer