Langsung ke konten utama

Featured Post

Anxious Escape: Kidung Malapetaka di Ranah Hening | Genshin Impact Fanfiction: Flins X Lauma — AncientGodAU

      Pada zaman ketika langit masih rendah dan nama para dewa dirapalkan dengan lutut bergetar, di bawah langit yang masih muda, dunia belum mengenal belas kasih. Kala itu, bahkan gunung-gunung belum memiliki nama dan manusia hanyalah remah-remah debu di bawah tumit para penguasa langit. Manusia hanyalah bayang-bayang yang hidup di sela akar, serangga kecil yang bernapas atas izin makhluk abadi—para dewa yang angkuh, dingin, dan kekal, tersebutlah sebuah takdir yang dipahatkan pada getah emas Pohon Takdir—Duv. Serat kuno menyebutkan, pada masa ketika dunia belum dinamai, para dewa tidak berdiri di atas tanah, melainkan bergantung padanya. Bumi pada awalnya adalah hamparan tanpa arah. Langit melayang tanpa batas. Dunia bawah menganga tanpa pintu. Tidak ada yang menghubungkan satu dengan yang lain, hingga sebatang pohon pertama tumbuh. Pohon yang tidak tumbuh karena air atau cahaya, melainkan karena  kebutuhan kosmos akan keseimbangan. Di jantung rimba utara, pohon ya...

Seorang Neighbor Baru Saja Tiba di Bumi, Apa Tujuannya? Kirayuu!

❝Wow! Inikah yang namanya Bumi, Replica?" Aku terkesima melihat keindahan sebuah planet yang didominasi warna biru itu. Di samping warna biru, adapula warna coklat dan hijau. Dari atas sini, planet itu tampak indah. Benarkah ini Bumi?


"Ya, Kirayuu! Tapi jangan senang dulu, kita masih belum sampai!"

"Eh, seberapa jauh?"


"Bergabunglah dengan kami!" Sambil salah satunya berseru begitu, sekelompok manusia konyol datang menghampiriku.

Aku menaikkan satu alis, bingung sekaligus heran.

"Kami menyebut diri kami, Dwayalatus! Sebuah tim menulis untuk senang-senang!

"Kita menerima semua orang, bahkan neighbor!"

"Debutmu sempat tertunda, kau tidak apa dengan itu?"

Komentar

Postingan Populer